Article

Kompetensi Sumber Daya Manusia Menjadi Kebutuhan

Kompetensi Sumber Daya Manusia Menjadi Kebutuhan Dikutip dari laman resmi Kementerian Perindustrian tentang Berita Industri yang bersumber dari KOMPAS bertajuk kompetensi SDM jadi syarat utama. Menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Benny Sutrisno, "Tersedianya sumber daya manusia berkualitas yang memiliki kompetensi menjadi prasyarat utama guna meningkatkan daya saing dunia usaha dan perekonomian nasional. Seluruh pemangku kepentingan harus bersama meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia, jika tidak ada persiapan kompetensi tenaga kerja, lapangan kerja akan direbut oleh pekerja dari beberapa negara lain," ungkap beliau. Terkait dengan hal itu, pengelolaan Sumber Daya Manusia berbasis kompetensi merupakan salah satu penerapan strategi pengelolaan roda bisnis perusahaan. Kualitas kompetitif suatu organisasi bisnis perusahaan sangat ditentukan oleh kualiatas SDM yang dimiliki. Sumber Daya Manusia yang kompeten sangat diperlukan, yaitu SDM yang memiliki kompetensi tertentu yang meliputi aspek pengetahuan (knowledge, science), keterampilan (skill, technology), dan sikap perilaku (attitude) yang dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan pekerjaan. Kesuksesan dalam lingkup organisasi perusahaan yang kompetitif membutuhkan SDM yang berkompeten dalam rangka mendukung pencapaian tujuan perusahaan. Hogan et al. (2002) dan Kaplan dan Norton (2006) menyebutkan bahwa pada era knowledge-based global economy, hampir 80% nilai dalam sebuah perusahaan berasal dari intangible assets seperti human capital. Bahwa, setiap organisasi perusahaan yang ingin tetap mampu berkiprah di dalam lingkungan yang semakin kompetitif, harus juga memiliki SDM yang tangguh dan hebat (Anoraga,2007). SDM yang kompeten sangat diperlukan dalam lingkungan kompetitif. Individu yang mempunyai kompetensi kerja yang baik tentu akan mudah untuk melaksanakan tanggung jawab pekerjaannya serta mampu menyesuaikan diri secara baik dengan lingkungannya. Organisasi bisnis perusahaan memandang SDM sebagai human capital, dimana kompetensi SDM sebagai aset organisasi untuk mendorong eksistensi organisasi dalam lingkungan bisnis yang kompetitif. Berhasil tidaknya suatu organisasi perusahaan dalam menciptakan keunggulan bersaing sangat tergantung pada kualitas SDM. Lako dan Sumaryati (2002) mengemukakan bahwa SDM yang berkualitas memiliki empat karakter, yaitu: Memiliki competence (pengetahuan, keterampilan, sikap perilaku) yang memadai. Commitment terhadap organisasi. Selalu bertindak secara cost- efectiveness dalam setiap aktivitasnya. Congruence of goals, yaitu bertindak sesuai dengan tujuan organisasi perusahaan. SDM yang berkualitas merupakan keunggulan kompetitif (competitive advantage) untuk meningkatkan keunggulan bersaing organisasi. Kompetensi tenaga kerja dan sertifikasi profesi merupakan solusi dalam upaya meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Selanjutnya, produktivitas tenaga kerja merupakan variabel kunci untuk memenangkan persaingan antar individu, antar industri, antar sektor, antar daerah, dan bahkan antar negara. Sebelum mengulas lebih jauh, mari sejenak kita menelaah bagaimana keterkaitan antara hubungan kompetensi, produktivitas, sertifikasi, dan daya saing disini Sebagaimana diketahui bahwa salah satu cara mengukur produktivitas tenaga kerja pada suatu sektor (kabupaten/ provinsi/ negara/ dunia) adalah Produk Domestik Bruto (PDB) di bagi dengan jumlah tenaga kerja (workers). Rumus ini menghasilkan rata- rata produktivitas tenaga kerja. Kemudian, rumus ini dapat diturunkan untuk menghitung produktivitas seorang tenaga kerja, yang tidak lain adalah sama dengan nilai tambah pekerjaan yang dikerjakan oleh tenaga kerja yang bersangkutan. Sementara itu, produktivitas tenaga kerja ditentukan oleh kompetensi yang bersangkutan, yakni semakin tinggi kompetensi maka semakin tinggi pula produktivitas. Apabila dilihat secara individu tenaga kerja, maka semakin tinggi kompetensi tenaga kerja, tentunya akan semakin tinggi nilai tambah yang dihasilkannya, lalu akan semakin tinggi pula produktivitas tenaga kerja yang bersangkutan. Selanjutnya apabila dilihat secara agregat, semakin tinggi kompetensi rata- rata tenaga kerja, maka semakin tinggi PDB per kapita, yang berarti semakin tinggi produktivitas rata- ratanya, akhirnya semakin tinggi daya saingnya. Jadi berdasarkan rumusan di atas, peningkatan kompetensi tenaga kerja merupakan muara dari peningkatan daya saing, yang mana kedua hal tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan. Dalam hal ini, peningkatan kompetensi dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, dan pemagangan. Sedangkan peningkatan daya saing tenaga kerja selain tergantung pada komptensi, juga ditentukan oleh sertifikasi profesi yang merupakan pengakuan (recognation) terhadap kompetensi yang dimiliki. Tanpa sertifikat kompetensi dapat dipastikan tidak diketahui secara gamblang standar kompetensi tenaga kerja yang bersangkutan ketika akan memasuki dunia kerja. Berdasarkan data BPS (Agustus 2014), struktur tenaga kerja Indonesia didominasi pekerja berpendidikan sekolah dasar. Dari 20,35 juta. Sebanyak 18,58 juta angkatan kerja merupakan lulusan sekolah menengah atas, 10,52 juta lulusan sekolah menengah kejuruan, 2,96 juta lulusan pendidikan diploma, dan 8,26 juta lulusan sarjana. Banyak persoalan yang harus dihadapi seperti soal standardisasi tenaga kerja dan penyiapan birokrasi untuk meningkatkan daya saing. Kegelisahan semacam ini harus disampaikan bukan untuk menciptakan suasana pesimistis. Hal tersebut justru harus disampaikan semua pihak untuk bekerja lebih keras menyiapkan kompetensi menghadapi kompetisi. Menurut catatan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dari 8 (delapan) bidang yang tersertifikasi di ASEAN yaitu insinyur, perawat, arsitek, tenaga survei, tenaga pariwisata, praktisi medis, dokter gigi, akuntan, tak ada satu pun kemampuan tenaga kerja Indonesia yang unggul untuk bersaing dengan negara lain. Ini menjadi satu tantangan sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi era globalisasi, khususnya menjelang pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean pada akhir 2015. Jika tidak dibenahi, Indonesia akan kesulitan menembus lapangan kerja di negara- negara lain karena kompetensi tenaga kerja yang masih kurang. Lebih dari itu, bagaimanapun daya saing penanaman modal di suatu negara sangat sensitif terhadap kondisi ketenagakerjaan. Isu-isu radikalisme kaum buruh dan rendahnya produktivitas ketenagakerjaan biasanya menjadi faktor penting apakah investor mau menanamkan modalnya disuatu negara atau tidak. Namun, Indonesia memiliki posisi tawar lebih tinggi daripada beberapa negara ASEAN, baik dalam hal ketersediaan sumber daya alam maupun jumlah penduduk. "Akan tetapi, jika tidak hati-hati Indonesia hanya akan menjadi penonton bukan pemain pada Masyarakat Ekonomi Asean nanti. Dengan sertifikat kompetensi yang terstandar, lulusan perguruan tingi Indonesia memiliki daya saing untuk masuk dalam pasar kerja nasional, regional, ataupun internasional. Dengan demikian, tenaga kerja terampil dan terdidik Indonesia mampu berkompetisi dalam liberalisasi tenaga kerja dalam level ASEAN yang sudah di depan mata. Itulah, makanya pemerintah perlu menata portofolio kompetensi SDM. Hal ini penting karena beberapa hari terakhir ini terjadi disparitas kesenjangan yang akut terkait kebutuhan tenaga kerja yang berkompetensi. Hingga saat ini, sebagian daerah belum melakukan transformasi dan difusi inovasi terkait dengan peningkatan kinerja investasi daerahnya. Itu mencakup perumusan kebijakan investasi, penyempurnaan peraturan dan regulasi, penyusunan masterplan investasi, pengembangan sistem informasi investasi, dan pengembangan partnership. Minimnya tenaga kerja berkompetensi tinggi menjadi kendala dalam melakukan transformasi. Diharapkan ke depan, pendidikan dan pelatihan tenaga kerja menjadi hal penting yang harus dilakukan. Tenaga kerja kita harus terus diasa kemampuan dan kompetensinya. Sinergitas dan pemberdayaan seluruh lembaga pendidikan dan pelatihan mutlak diperlukan dalam menyiapkan tenaga kerja yang berkompeten dan mampu berkompetisi dalam persaingan global. Sinergitas antara pendidikan dan pelatihan kerja haruslah bermuara kepada peningkatan kompetensi kerja sehingga kebutuhan pasar kerja dapat segera terpenuhi oleh angkatan kerja Indonesia yang berdaya saing tinggi. Disamping itu kurang kondusifnya pasar tenaga kerja memang harus segera diatasi. Dengan produktivitas yang masih rendah, masalah kompetensi dan upah yang sulit diperkirakan secara pasti serta ketidakpastian hubungan industrial antara perusahaan dan tenaga kerja, maka daya tarik investasi dari sisi ketenagakerjaan masih menjadi sebuah pekerjaan rumah besar pemerintah. Meskipun pertumbuhan ekonomi berjalan lambat namun pasar tenaga kerja di Indonesia terus mengalami peningkatan, di mana pekerjaan dan kondisi kerja meningkat sedangkan pekerjaan berisiko atau pekerjaan rentan menurun dan pekerjaan formal meningkat. Perubahaan struktural di semua sektor dan pekerjaan terus terjadi. Perkembangan ini menempatkan Indonesia pada posisi yang menguntungkan karena Masyarakat Ekonomi ASEAN akan segera diberlakukan pada akhir tahun 2015. Untuk terus mendukung perluasan pekerjaan bermutu di Indonesia, para pembuat kebijakan perlu mengembangkan strategi untuk mempromosikan pekerjaan layak bagi pertumbuhan yang adil. Fokus terhadap persoalan seperti kompetensi, produktivitas pekerja, partisipasi perempuan dalam pekerjaan, dan transisi dari sekolah ke pekerjaan diperlukan untuk memastikan keberhasilan pasar tenaga kerja Indonesia. Demikian, sebagaimana dikutip dari ILO. Kompetensi adalah kemampuan dalam bertindak yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, teknologi dan etika. "Seseorang yang kompeten dalam level tertentu belum tentu kompeten pada level berikutnya" -Laurance J. Peter, The Peter Principle.

Tentang Kami

LSP JMKP didirikan atas prakarsa Asosiasi Profesi Keamanan Pangan (APKEPI) dengan dukungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Pertanian. JMKP telah mendapatkan lisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja di bidang jaminan mutu dan keamanan pangan