Article

ASESMEN JARAK JAUH SEBAGAI ALTERNATIF PROSES SERTIFIKASI DI MASA PANDEMIK

Perubahan merupakan hal yang tidak terhindarkan bagi organisasi.  Saat ini, banyak industri sedang menghadapi VUCA, yaitu Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity, di mana situasi ini ditandai dengan adanya ketidakpastian dalam banyak hal, tantangan yang tidak terduga, kompleksitas dalam memahami keterkaitan antarsituasi, dan ambiguitas dalam menghadapi hal yang belum diketahui sebelumnya.  Saat ini, kondisi tersebut disertai dengan hadirnya Corona Virus Disease 2019 (Covid - 19) yang dalam setahun ini terus meningkat hingga statusnya ditetapkan sebagai pandemik.  Kondisi ini berdampak pada banyak hal, tidak terkecuali organisasi.  Ada banyak perubahan yang dihadapi organisasi dalam ketidakpastian, termasuk dalam menjalankan proses bisnisnya.  Salah satu cara bagi organisasi untuk menghadapi tantangan agar dapat terus bertahan adalah dengan beradaptasi.  Dalam kondisi ketidakpastian, organisasi dituntut untuk memahami kondisi baik internal maupun eksternal.  Dengan demikian, organisasi dapat menentukan langkah adaptasi yang sesuai dan berdampak baik bagi organisasi.  Hal ini tidak terkecuali bagi LSP Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan (LSP JMKP).  Di tengah masa pandemik Covid - 19, LSP JMKP mendukung arahan Pemerintah untuk berusaha memutus rantai penyebaran Covid - 19 melalui Pelaksanaan Asesmen Jarak Jauh.  Pelaksanaan Asesmen Jarak Jauh tersebut mengacu pada Surat Edaran Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Nomor: SE.011/BNSP/IV/2020 di antaranya tentang ketentuan pelaksanaan asesmen jarak jauh dengan menggunakan teknologi informasi untuk menjamin mutu sertifikasi.  Dalam mempersiapkan pelaksanaan asesmen jarak jauh, LSP JMKP mempersiapkan beberapa hal.  Pertama, metode asesmen dikembangkan dan disesuaikan untuk pelaksanaan asesmen jarak jauh.  LSP JMKP memastikan bahwa metode asesmen yang digunakan tetap valid dan reliabel untuk menggali kompetensi peserta uji.  Proses tatap muka yang sebelumnya dilakukan secara langsung saat ini berpindah ke dalam aplikasi konferensi video.  Dengan demikian, asesor dan peserta sertifikasi masih tetap dapat berinteraksi.  Pengerjaan berbagai perangkat asesmen pun didukung oleh teknologi dan aplikasi yang dianggap mampu mensubstitusi proses asesmen kompetensi di luar jaringan (offline) yang biasanya dilakukan.  Selain itu, LSP JMKP mengembangkan sistem informasi internal yang juga dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan uji kompetensi.  Kedua, LSP JMKP secara bertahap melakukan pelatihan bagi para asesor untuk menggunakan teknologi dan aplikasi yang akan digunakan dalam asesmen.  Selain bagi asesor, LSP JMKP juga melaksanakan pelatihan bagi personilnya yang akan ditugaskan menjadi admin uji selama asesmen berlangsung.  Metode yang dikembangkan dan hasil pelatihan ini kemudian ditindaklanjuti ke dalam berbagai uji coba pelaksanaan asesmen jarak jauh.  Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi proses sertifikasi dan mengantisipasi berbagai kondisi yang mungkin terjadi saat pelaksanaan asesmen. Dengan demikian, mutu sertifikasi LSP JMKP dapat tetap terjamin.  Sejak diterbitkannya Lisensi Asesmen Jarak Jauh BNSP kepada LSP JMKP pada Tahun 2020, peminat asesmen jarak jauh terus meningkat.  Proses sertifikasi yang berlangsung secara online ini menarik animo masyarakat untuk tetap dapat mengikuti sertifikasi.  Adanya pelaksanaan asesmen jarak jauh ini dapat mengakomodasi kebutuhan pelaksanaan sertifikasi.  Dalam implementasinya, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, di antaranya ialah menyosialisasikan metode teknis uji pada peserta sertifikasi dan adaptasi pelaksanaan uji kompetensi dalam jaringan.  Seiring dengan pelaksanaan asesmen jarak jauh yang terus meningkat, hal ini dapat diatasi dengan baik.  Selain itu, koneksi internet menjadi salah satu kebutuhan utama dalam pelaksanaan asesmen jarak jauh.  Di beberapa lokasi, kestabilan koneksi ini menjadi tantangan.  Sebelum uji dilaksanakan, LSP JMKP terlebih dahulu melakukan verifikasi tempat uji kompetensi (TUK) terhadap persyaratan yang telah ditetapkan LSP JMKP dan menginformasikan hal-hal yang perlu disiapkan guna pelaksanaan uji.  Hal-hal ini dilakukan untuk meminimaliasasi adanya gangguan yang terjadi saat uji berlangsung.  Dengan semakin meningkatnya pelaksanaan asesmen jarak jauh, LSP JMKP dituntut untuk tetap menjaga mutu sertifikasi.  LSP JMKP secara berkala melakukan pemantauan proses sertifikasi serta evaluasi untuk memastikan kesesuaian proses yang dilaksanakan.  Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, LSP JMKP juga secara berkala meninjau kembali tindakan dan rencana alternatif yang dapat dilakukan untuk menghadapi kondisi tertentu.  Adaptasi ini terus dilakukan untuk memastikan proses asesmen jarak jauh tetap dilaksanakan secara reliabel dan valid.  Apalagi, di masa pandemik ini, marak terjadi pengurangan dan pemutusan hubungan kerja.  Tenaga kerja yang terdampak memerlukan nilai tambah untuk tetap dapat bertahan, salah satunya melalui kepemilikan sertifikat kompetensi yang dapat memperkuat kepercayaan diri tenaga kerja maupun pemberi kerja mengenai latar belakang dan kompetensi yang dimiliki oleh tenaga kerja.  Sertifikat yang diperoleh dapat menjadi pengakuan kompetensi yang dimiliki oleh tenaga kerja.  Dengan adanya pelaksanaan asesmen jarak jauh ini diharapkan dapat terus menunjang kebutuhan proses sertifikasi tanpa berkompromi pada mutu sertifikasi.  LSP JMKP berkomitmen untuk berupaya menyelenggarakan asesmen yang reliabel.  Selain itu, pelaksanaan asesmen jarak jauh ini diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dalam penekanan persebaran virus Covid - 19.

Tentang Kami

LSP JMKP didirikan atas prakarsa Asosiasi Profesi Keamanan Pangan (APKEPI) dengan dukungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Pertanian. JMKP telah mendapatkan lisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja di bidang jaminan mutu dan keamanan pangan